Assalamualaikum, Sahabat Rohis kita bakal bahas masalah dan
keluhan tentang masalah riya yang beberapa orang mengeluhkannya dalam masalah
mengisi MY, Tapi bahasan kali ini bisa dipake buat ibadah yang lebih luas, so cek this
out!
PENGERTIAN RIYA
MENURUT BAHASA
Pengertian Riya menurut Bahasa: riya’ (الرياء) berasal dari kata الرؤية /ru’yah, yang artinya
menampakkan
Riya ’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada
sesama manusia.
PENGERTIAN RIYA
MENURUT ISTILAH:
Pengertian Riya Menurut Istilah yaitu: melakukan ibadah dengan
niat supaya ingin dipuji manusia,
dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari
berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu
mereka memuji pelaku amalan itu”.
Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada hati
manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
Imam Habib Abdullah Haddad pula berpendapat bahwa riya’
adalah menuntut kedudukan atau meminta dihormati daripada orang ramai dengan
amalan yang ditujukan untuk akhirat.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah
melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi
manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya
mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan
penghormatan padanya.
JENIS-JENIS RIYA
Riya’ dibagi kedalam dua tingkatan:
riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk
mendapatkan pujian dari manusia,
riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat
menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari
manusia, dan keduanya bercampur”.
Riya’ bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah
atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan
Perbuatan riya bila dilihat dari sisi amal/citra yang
ditonjolkan menurut Imam Al-Ghazali dapat dibagi atas 5 kategori, yaitu:
- Riya dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa dan shalat tahajud;
- Riya dalam penampilan tubuh dan pakaian, misalnya memakai baju koko agar disangka shaleh atau memperlihatkan tanda hitam di dahi agar disangka rajin sholat.
- Riya dalam perkataan, misalnya orang yang selalu bicara keagamaan agar disangka ahli agama.
- Riya dalam perbuatan, misalnya orang yang sengaja memperbanyak shalat sunnah di hadapan orang banyak agar disangka orang sholeh. Atau seseorang yang pergi berhaji/umroh untuk memperbaiki citranya di masyarakat.
- Riya dalam persahabatan, misalnya orang yang sengaja mengikuti ustadz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim.
Jangan biarkan pahala ibadah-ibadah yang telah sulit kita
kumpulkan hilang tanpa arti dan berbuah keburukkan lantaran masih ada riya di
hati kita. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya:
“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian
dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana
kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 264)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu
orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” (Al Maa’uun
4-6)
Source : facebook.com
Hmm, So jadi Mutabaah yaumiyah itu
Riya dong? Sebentar dulu brads.. mari kita simak kelanjutannya
Imam Al-Bukhari rahimahullah di dalam
kitab shahihnya berkata, “Bab: Shadaqah yang Dilakukan Secara
Sembunyi-Sembunyi. Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata dari
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (bersabda),
وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ
شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ
“Dan seseorang yang bershadaqah lalu ia
menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tak mengetahui apa yang dilakukan
tangan kanannya”
Dan Firman Allah :
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ
تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
”Jika kalian menampakkan sedekah(kalian), maka itu adalah
baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada
orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian” (Al-Baqarah
: 271).
Ath -Thabarani meriwayatkan dalam “Al-Kabir (1018) ”, dari
Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إن صدقة السر تطفئ
غضب الرب
“Sesungguhnya shadaqah yang dilakukan
secara sembunyi-sembunyi memadamkan murka Ar-Rabb (Allah)” (Syaikh
Al-Albani menshahihkan Hadits ini dalam “Ash-Shahihah 1908”).
Imam At-Tirmidzi (2919) meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radiyallahu
‘anhu, beliau berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda”,
الْجَاهِرُ
بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ ، وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ
كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ
“Orang yang membaca Al-Qur`an dengan suara keras seperti
orang yang menampakkan shadaqah, dan orang yang membaca Al-Qur`an dengan suara
pelan seperti orang yang bershadaqoh secara sembunyi-sembunyi ”.
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Shahih
At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata,
“Makna Hadits ini adalah orang yang memelankan suara
dalam membaca Al-Qur`an lebih utama daripada orang yang mengeraskan suara dalam
membaca Al-Qur`an karena shadaqah yang dilakukan secara
sembunyi-sembunyi lebih utama dari shadaqah yang dilakukan
secara terang-terangan, demikian kesimpulan Ulama.”
Ulama menjelaskan maksud hal itu adalah agar seseorang yang
melakukan amal shalih aman dari penyakit ‘ujub (membanggakan amal)
karena orang yang menyembunyikan amal tidak terlalu khawatir terhadap serangan ‘ujub,
beda jika ia menampakannya, ketika itu penyakit tersebut lebih dikhawatirkan
menyerangnya. Namun, selama ada maslahat syar’i dalam menampakkan
amal shalih, seperti agar dicontoh oleh orang lain dan mendorong mereka untuk
melakukan kebaikan, serta bersih dari riya` dan mencari
popularitas, maka tidak mengapa dikeraskan/dinampakkan (amal shalih tersebut).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman
Allah,
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ
تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
”Jika kalian menampakkan sedekah(kalian), maka itu adalah
baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada
orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian” (Al-Baqarah
: 271).
Di dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa menyembunyikan shadaqah lebih
utama daripada menampakkannya, karena lebih jauh dari riya` kecuali
jika ada maslahat yang kuat, yaitu orang-orang
mengikutinya,maka menampakannya lebih utama jika ditinjau dari sudut pandang
ini dan hukum asalnya adalah menyembunyikan lebih utama,berdasarkan Ayat ini
(Tafsir Ibnu Katsir 1/701).
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam
kitab Al-Fath 11/337 :
“Terkadang disunnahkan menampakkannya -yaitu amal
shalih- bagi orang yang menjadi panutan. Jika tujuannya untuk ditiru dan hal
itu diukur sesuai dengan kebutuhan. Ibnu ‘Abdis Salam berkata, ‘Dikecualikan
dari hukum sunnahnya menyembunyikan amal adalah bagi orang yang menampakkannya
dengan niat agar dicontoh atau agar bisa diambil manfaatnya, seperti penulisan
masalah ilmiyyah. Ath-Thabari, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud dan sekelompok Salafush
Shalih berkata, ‘shalat malam di masjid-masjid mereka dan menampakkan
amal shalih mereka dengan niat agar dicontoh.’ Beliau berkata, ‘Barangsiapa
menjadi imam (pemimpin) yang perbuatannya menjadi tauladan, iapun mengetahui
hak Allah atas dirinya, dan mampu menaklukkan syetannya, maka bagi dia, sama
kedudukannya antara amal yang ditampakkan dengan yang disembunyikan karena
kebaikan niatnya. Adapun bagi orang yang bertipe kebalikannya, maka
menyembunyikan amal lebih utama baginya. Atas prinsip inilah Salafush
Shalih melakukan amal shalih”.
Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata, “Di
dalam menyembunyikan amal shalih ada faidah keikhlasan dan selamat dari riya`,
dan di dalam menampakkannya ada faidah menjadi suri tauladan dan penyemangat
manusia untuk berbuat baik, akan tetapi terancam serangan riya`,
dan Allah memuji kedua sikap ini, Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ
تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
”Jika kalian menampakkan sedekah (kalian), maka itu
adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada
orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian” (Al-Baqarah
: 271).
Namun Dia memuji sikap menyembunyikan amal karena bisa
selamat dari perusak amal yang besar tersebut, sedangkan sedikit orang yang
bisa selamat darinya. Terkadang sikap menampakkan amal adalah sesuatu yang
terpuji, ketika memang tidak bisa disembunyikan, seperti jihad, haji, shalat
jum’at, dan shalat jama’ah. Maka bentuk menampakkan amal-amal tersebut adalah
dengan bersegera melakukannya dan menampakkan keinginan melakukannya dengan
tujuan menyemangati (orang lain) dengan syarat tidak terkotori kotoran riya`.
Kesimpulan, selama suatu amal shalih itu bersih dari
kotoran-kotoran tersebut dan menampakkanya tidak sampai mengganggu orang lain,
serta memang mendorong manusia untuk mencontoh dan mengikuti perbuatan yang
baik tersebut hingga mereka pun bersegera melakukannya –dan hal ini disebabkan
karena kedudukan pelakunya adalah sebagai ulama atau orang-orang yang shalih
yang mampu menggerakkan mereka untuk mencontohnya-, maka sikap menampakkan amal
ketika itu adalah sesuatu yang lebih utama karena hal itu merupakan kedudukan
para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ulama pewaris
mereka, sedangkan tidaklah mereka dikhususkan kecuali dengan sesuatu yang
paling sempurna, dan karena juga manfaatnya meluas untuk orang lain, serta
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً
فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ يَعْمَلُ بِهَا
إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang memulai mengamalkan suatu amal shalih
dan manusia mencontohnya,maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang
yang mengamalkannya sampai hari Kiamat. Jika tidak terpenuhi syarat
tersebut di atas,maka sikap menyembunyikan amal itu lebih utama” (Az-Zawajir :
1/118).
Berkata Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah,
“Termasuk kesempurnaan ikhlas adalah seseorang bersemangat
agar tidak ada orang yang melihat ibadahnya dan agar ibadahnya kepada Rabbnya
tidak diketahui manusia, kecuali jika
menampakkannya ada kemaslahatan bagi kaum muslimin atau bagi Islam, seperti jika seseorang itu statusnya sebagai pemimpin yang diikuti dan ia ingin menunjukkan ibadahnya kepada manusia agar mereka mengambilnya sebagai contoh bagaimana melakukan ibadah tersebut, atau ia menampakkan ibadah dengan tujuan ingin dicontoh oleh teman, pengiring, dan sahabat-sahabatnya, maka dalam hal ini ada kebaikan. Maslahat-maslahat yang memang layak untuk dipilih tersebut, terkadang lebih utama dan lebih tinggi dari maslahat menyembunyikan amal, oleh karena itulah Allah ‘Azza Wa Jalla memuji orang-orang yang berinfak dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan juga.
menampakkannya ada kemaslahatan bagi kaum muslimin atau bagi Islam, seperti jika seseorang itu statusnya sebagai pemimpin yang diikuti dan ia ingin menunjukkan ibadahnya kepada manusia agar mereka mengambilnya sebagai contoh bagaimana melakukan ibadah tersebut, atau ia menampakkan ibadah dengan tujuan ingin dicontoh oleh teman, pengiring, dan sahabat-sahabatnya, maka dalam hal ini ada kebaikan. Maslahat-maslahat yang memang layak untuk dipilih tersebut, terkadang lebih utama dan lebih tinggi dari maslahat menyembunyikan amal, oleh karena itulah Allah ‘Azza Wa Jalla memuji orang-orang yang berinfak dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan juga.
Jika memang sembunyi-sembunyi itu lebih maslahat, lebih
bermanfaat bagi hati, dan lebih khusyu’ serta lebih bisa
kembali kepada Allah, maka mereka menyembunyikannya, sedangkan jika menampakkan
amal ada maslahatnya bagi Islam dalam bentuk nampak semarak syariat-Nya
(diterapkan) dan bagi kaum muslimin bisa mencontohnya, maka mereka akan
menampakannya. Seorang mukmin hendaklah melihat apa yang paling bermanfaat
(baginya), kapan saja sesuatu itu lebih bermaslahat dan lebih
bermanfaat pengaruhnya dalam peribadatan, maka hal itu lebih sempurna dan lebih
utama” (Majmu’ Fatawa dan Risalah Ibnul ‘Utsaimin : 3/165).
Dan berdasarkan hal inilah ,maka tidak mengapa Anda
memberitahu istri Anda tentang sebagian amal shalih Anda, hingga Anda bisa
mendorongnya untuk mencontoh Anda dan bersungguh-sungguhlah dalam mengikhlaskan
amal untuk Allah Ta’ala saja dan membersihkannya dari riya`. Wallahu
a’lam (Islamqa.info/ar/135634).
Jika memang
sembunyi-sembunyi itu lebih maslahat, lebih bermanfaat bagi hati, dan lebih khusyu’ serta
lebih bisa kembali kepada Allah, maka mereka menyembunyikannya, sedangkan
jika menampakkan amal ada maslahatnya bagi Islam dalam bentuk nampak semarak
syariat-Nya (diterapkan) dan bagi kaum muslimin bisa mencontohnya, maka mereka
akan menampakannya. Seorang mukmin hendaklah melihat apa yang paling bermanfaat
(baginya), kapan saja sesuatu itu lebih bermaslahat dan lebih
bermanfaat pengaruhnya dalam peribadatan, maka hal itu lebih sempurna dan lebih
utama” (Majmu’ Fatawa dan Risalah Ibnul ‘Utsaimin : 3/165).
Oke, Mari kita simak bagian yang di bold, yap Jadi kesimpulannya
:
·
ketika hal tersebut lebih bermaslahat bagi kaum
muslimin dan tujuannya agar bisa menjadi tauladan bagi yang lain kita
menampakannya, termasuk mutabaah yaumiyah karena tujuannya disini ialah untuk
menjadi pendorong ibadah.
- Riya itu dari dari hati atau bisa dilihat dibagian pengertian menurut istilah bahwa tergantung dari niat kita, “Mungkin ketika kita awal beramal 100 dolar, akan mucul Riya dihati, tapi ketika kita melakukannya berulang lama kelamaan hal tersebut akan berubah menjadi ikhlas karena pengulangan atau habits kebiasaan, Akan tetapi jika kita tidak memulai kapan kita akan berbuat?” – felix Siaw
- Menolak untuk melakukan sesuatu yang baik karena takut dianggap sombong adalah kesombongan –Mario Teguh
- Yap musuh islam saat ini sudah show off dengan kehebatan mereka dengan hal2 yang tentu kurang baik bagi Pemuda-pemudi islam yang merusak moral, pikiran, bahkan perilaku dan mindset. Jika kita hanya terdiam dan berdalih tidak mau sombong atau riya untuk memberi tauladan. Bagaimana pertanggung jawaban kita kelak ketika Allah menannyakan tentang Ilmu dan pengetahuan tentang Islam yang telah diberikan kepada kita?
·
Apalagi mutabaah yaumiyah adalah satu produk
yang berada dalam sistem,bukan individu yang show off dimana terdapat seorang pemimpin yang disana harus
ditaati
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah
Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)
Sekian kalau ada yang mau nanya bisa comment atau WA ya ;)
Editor : Me






terimakasih,, saya jadi lebih tahu lagi tentang apa itu riya sebenarnya..
BalasHapusHONG KONG HONG KONG KONG - Shootercasino カジノ シークレット カジノ シークレット rb88 rb88 871Parlay Predictions Nfl | Shootercasino
BalasHapus