kamu bisa akses update rank dan pertanyaan-pertanyaan terbaru seputar Rohis (deskripsi image slide tidak ditampilkan saat menggunakan mobile device)

  • Assalamualaikum Selamat datang :)

    Jangan lupa untuk selalu menebarkan kebaikan

  • Apa tujuan Blog ini dibuat?

    Blog ini di buat sebagai parameter kualitas dan indeks prestasi ibadah member Rohis dalam kepengurusannya

  • Tersenyumlah :))

    Senyummu di hadapan saudaramu adalah Shadaqoh

  • Ali imran ayat 104

    Dan hendaklah diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung

  • Hadist tentang Penaklukan Konstatinopel

    Rasullulah saw pernah ditanya, "kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstatinopel atau Roma? Rasul menjawab, "kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu konstatinopel" (HR Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim)

Yakin lagi pesimis?

Definisi Pesimis



















Assalamualaikum Sahabat Rohis, Apakah lagi pesimis? PARAS sudah mendekat? Banyak hal gak sesuai rencana? UKK telah selesai? Namun Bagi Raport telah mendekat? Ataukah masih sangat optimis dengan keseharian kita?

Yuk, Kita simak aja isi dari artikel. berikut

Pesimis adalah kondisi pikiran yang melihat dunia ini selalu negatif. Memang tidak harus semuanya terlihat negatif, mungkin untuk aspek kehidupan yang lain seseorang menerima dengan positif, tetapi untuk aspek lainnya dia melihatnya dengan negatif. Artinya mungkin ada seseorang yang pesimis hanya untuk sebagian aspek kehidupan lainnya.

Muara dari pesimis adalah sikap putus asa, sebuah sikap yang menganggap tidak ada lagi (habis) harapan positif. Pesimis dengan sikap putus asa adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Saat kita membahas pesimis, kita juga sekaligus bicara tentang putus asa. Pesimis menyebabkan kita putus asa, dan penyebab putus asa adalah pesimis.

Penyebab Pesimis
Bagi orang yang pesimis, mereka pesimis karena “fakta dan logika berbicara”. Mereka akan bersandar pada fakta tentang hel-hal negatif, akibat buruk, dan kekagagal yang ada. Ini akan menjadi alasan bagi mereka, bahwa berpikir negatif itu wajar sebab fakta berbicara. Selain fakta, mereka pun akan mengatakan bahwa secara logika juga memang demikian, bahwa selalu ada hal negatif dan peluang kegagalan dibalik sesuatu.
Contoh fakta yang bisa dijadikan alasan mereka pesimis seperti banyaknya pejabat yang korup. Berbagai penggantian pejabat sudah sering terjadi, tetapi perbaikan belum terlihat. Ini menjadikan banyak orang yang pesimis.
Bisa juga, Anda sudah mencoba bisnis, namun gagal lagi, gagal lagi. Anda kemudian mengatakan “fakta” bahwa Anda memang tidak akan berhasil bisnis, atau mengatakan bisnis itu sangat beresiko. Artinya, meski Anda punya fakta dan dalil untuk bersikap pesimis, Anda tetap orang pesimis.
Namun, sebenarnya bukan itu penyebab pesimis. Mohon maaf, penyebab pesimis adalah iman yang lemah bahkan orang yang tidak punya iman.

Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (QS. Az Zumar: 53)

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir“. (QS. Yusuf:87)


Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat“. (QS Al Hijr:56)

Janganlah kalian berputus asa dari rizqi Allah selama kepala kalian masih bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi“. (HR Ahmad No 15294)

Dalam hadits lain disebutkan:
Janganlah kalian berputus asa dari kebaikan, selama kepala kalian masih bisa bergerak. Manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi“. (HR Ahmad No 15295)

Bahaya Pesimis

Jika seseorang pesimis terhadap sesuatu, maka dia tidak mungkin lagi berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Tidak ada pencapaian dan kebaikan dari orang yang pesimis. Dia memiliki segudang alasan, logika, dan faktwa bahwa dia tidak perlu berusaha lagi.
Jika tidak berusaha, maka dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa. Dia bahkan tidak mau berdakwah karena tidak akan ada gunanya menurut dia. Jadi, memang bahaya baik untuk dunia dan akhirat.

Malas, tidak mau berusaha, hanya menghujat sana sini, bahkan tidak sedikit yang bunuh diri saat harapan sudah tidak ada. jadi, jangan biarkan sikap pesimis tumbuh dalam hati Anda.

Cara Mengatasinya
Cara mengatasinya artinya kita membangun optimisme dalam diri kita. Jika penyebabnya adalah lemah atau bahkan tidak ada iman, maka jika ada setitik saja rasa putus asa dalam diri kita, maka kita harus terus-menerus meningkatkan keimanan kita. Tentu dengan iman yang sebenar-benarnya iman.
Bukankah kita beriman jika Allah Mahakuasa? Maka tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Sebesar apa pun masalah yang kita hadapi, bagi Allah itu mudah saja. Sebesar apa pun tujuan yang akan kita gapai, bagi Allah itu mudah. Jadi, tidak ada kata putus asa jika Anda percaya kepada Allah akan menolong kita.


Seorang yang beriman saat dia menghadapi kesulitan, dia tidak akan pernah berputus asa, meski dia bingung apa yang harus dilakukan. Maka dia akan berdo’a meminta petunjuk kepada Allah. Karena dia yakin, Allah Maha Mengetahui.

Setelah berdo’a dia akan bertawakal kepada Allah. Saat urusan kita sudah diwakilkan kepada Allah, kenapa kita harus takut? Bahkan sekedar ragu pun tidak pantas, sebab Allah akan membantu kita.
Saat keyakinan sudah mantap dalam hati, maka dia akan begitu semangat dalam berikhtiar, optimis, dan menyongsong masa depan yang lebih baik. Masa lalu boleh kelabu. Saat ini mungkin banyak masalah. Tetapi, tidak ada alasan kalau besok akan tetap seperti ini. Selama kepala bisa bergerak, maka kita tidak perlu berputus asa dari kebaikan dan rezeki.

Kita juga harus tetap optimis meski beban terasa sangat berat. Seberat-beratnya beban, tentu manusia akan tetap mampu menanggungnya. Sebab, Allah tidak akan membebani manusia di luar kesanggupannya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS Al Baqarah: 286)

Saya Ingin Optimis, Tapi Apa Yang Harus Saya Lakukan?
Tentu saja, kadang kita tidak (sebenarnya “belum”) mengetahui apa lagi yang harus dilakukan? Kita mungkin bingung.  Namun yakinlah, saat kita tidak mengetahui, bukan berarti tidak ada jalan. Kita hanya belum menemukannya. Kita bukan tidak bisa, tetapi belum tahu caranya. Jadi, saat Anda tidak tahu harus melakukan apa, maka jawabannya adalah belajar dan/atau mencoba.
Artinya, Anda bisa belajar kepada orang lain atau mencoba sendiri kemudian mengambil pelajaran dari percobaan Anda. Jika Anda tidak mau belajar dan berusaha, maka Anda tidak akan pernah menemukan apa-apa. Optimis akan tetap jauh dari diri Anda.
Percayalah, semakin banyak belajar (belajar dengan cara yang baik) maka Anda akan semakin optimis. Jalan-jalan seolah mulai terbuka untuk Anda lalui, baik mengatasi masalah Anda maupun menggapai impian Anda.



Jangan Tergesa-gesa

Sesungguhnya doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, hingga dia berkata; “Aku telah memohon kepada Rabbku namun Dia tidak mengabulkan doaku.” (HR Ahmad No 8784)

Sikap tergesa-gesa akan menjadikan kita pesimis. Jika Anda ingin mendapatkan sesuatu dengan tergesa-gesa, akan menyebabkan Anda putus asa, karena harapan memang tidak terlihat. Anda ingin kaya dalam semalam, ingin terampil besok, bahkan ingin dikabulkan do’anya segera.
Semuanya butuh proses, ada sunatullah di dunia ini dan kita harus mengikutinya karena itu adalah ketentuan Allah. Jadi, ikuti proses jangan tergesa-gesa.

Kesimpulan
Cara mengatasi pesimis itu tiada lain dengan cara mempertebal iman kita, manajemen qalbu. Sehingga kita akan memiliki keyakinan dalam berikhtiar. Jika Anda menemukan sesuatu yang berat, yakinlah itu dibawah kesanggupan Anda. Jika Anda tidak bisa, maka yakinlah ada caranya, hanya saja belum Anda temukan. Jika memang jauh, maka melangkahlah agar semakin dekat.

Share:

Mutabaah yaumiyah Riya?

 Assalamualaikum, Sahabat Rohis kita bakal bahas masalah dan keluhan tentang masalah riya yang beberapa orang mengeluhkannya dalam masalah mengisi MY, Tapi bahasan kali ini bisa dipake buat ibadah yang lebih luas, so cek this out!

PENGERTIAN RIYA MENURUT BAHASA
Pengertian Riya menurut Bahasa: riya’ (الرياء) berasal dari kata الرؤية /ru’yah, yang artinya menampakkan
Riya ’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan kepada sesama manusia.

PENGERTIAN RIYA MENURUT ISTILAH:
Pengertian Riya Menurut Istilah yaitu: melakukan ibadah dengan niat supaya ingin dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada Allah SWT.
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fathul Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.
Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.
Imam Habib Abdullah Haddad pula berpendapat bahwa riya’ adalah menuntut kedudukan atau meminta dihormati daripada orang ramai dengan amalan yang ditujukan untuk akhirat.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa riya’ adalah melakukan amal kebaikan bukan karena niat ibadah kepada Allah, melainkan demi manusia dengan cara memperlihatkan amal kebaikannya kepada orang lain supaya mendapat pujian atau penghargaan, dengan harapan agar orang lain memberikan penghormatan padanya.

JENIS-JENIS RIYA
Riya’ dibagi kedalam dua tingkatan:
riya’ kholish yaitu melakukan ibadah semata-mata hanya untuk mendapatkan pujian dari manusia,
riya’ syirik yaitu melakukan perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan juga karena untuk mendapatkan pujian dari manusia, dan keduanya bercampur”.

Riya’ bisa muncul didalam diri seseorang pada saat setelah atau sebelum suatu ibadah selesai dilakukan

Perbuatan riya bila dilihat dari sisi amal/citra yang ditonjolkan menurut Imam Al-Ghazali dapat dibagi atas 5 kategori, yaitu:

  1. Riya dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, misalnya memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa dan shalat tahajud;
  2. Riya dalam penampilan tubuh dan pakaian, misalnya memakai baju koko agar disangka shaleh atau memperlihatkan tanda hitam di dahi agar disangka rajin sholat.
  3. Riya dalam perkataan, misalnya orang yang selalu bicara keagamaan agar disangka ahli agama.
  4. Riya dalam perbuatan, misalnya orang yang sengaja memperbanyak shalat sunnah di hadapan orang banyak agar disangka orang sholeh. Atau seseorang yang pergi berhaji/umroh untuk memperbaiki citranya di masyarakat.
  5. Riya dalam persahabatan, misalnya orang yang sengaja mengikuti ustadz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim.

Jangan biarkan pahala ibadah-ibadah yang telah sulit kita kumpulkan hilang tanpa arti dan berbuah keburukkan lantaran masih ada riya di hati kita. Allah SWT mengingatkan dalam firmannya:
“Janganlah kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya atau menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 264)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya” (Al Maa’uun 4-6)
Source : facebook.com

Hmm, So jadi Mutabaah yaumiyah itu Riya dong? Sebentar dulu brads.. mari kita simak kelanjutannya

Imam Al-Bukhari  rahimahullah di dalam kitab shahihnya berkata, “Bab: Shadaqah yang Dilakukan Secara Sembunyi-Sembunyi. Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (bersabda),

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ

“Dan seseorang yang bershadaqah lalu ia menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya”

Dan Firman Allah :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Jika kalian menampakkan sedekah(kalian), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian” (Al-Baqarah : 271).

Ath -Thabarani meriwayatkan dalam “Al-Kabir (1018) ”, dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن صدقة السر تطفئ غضب الرب

“Sesungguhnya shadaqah  yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memadamkan murka Ar-Rabb (Allah)” (Syaikh Al-Albani menshahihkan Hadits ini dalam “Ash-Shahihah 1908”).

Imam At-Tirmidzi (2919) meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda”,

الْجَاهِرُ بِالْقُرْآنِ كَالْجَاهِرِ بِالصَّدَقَةِ ، وَالْمُسِرُّ بِالْقُرْآنِ كَالْمُسِرِّ بِالصَّدَقَةِ

“Orang yang membaca Al-Qur`an dengan suara keras seperti orang yang menampakkan shadaqah, dan orang yang membaca Al-Qur`an dengan suara pelan seperti orang yang bershadaqoh secara sembunyi-sembunyi ”.

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Shahih At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata,
Makna Hadits ini adalah orang yang memelankan suara dalam membaca Al-Qur`an lebih utama daripada orang yang mengeraskan suara dalam membaca Al-Qur`an karena shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih utama dari shadaqah yang dilakukan secara terang-terangan, demikian kesimpulan Ulama.”


Ulama menjelaskan maksud hal itu adalah agar seseorang yang melakukan amal shalih aman dari penyakit ‘ujub (membanggakan amal) karena orang yang menyembunyikan amal tidak terlalu khawatir terhadap serangan ‘ujub, beda jika ia menampakannya, ketika itu penyakit tersebut lebih dikhawatirkan menyerangnya. Namun, selama ada maslahat syar’i dalam menampakkan amal shalih, seperti agar dicontoh oleh orang lain dan mendorong mereka untuk melakukan kebaikan, serta bersih dari riya` dan mencari popularitas, maka tidak mengapa dikeraskan/dinampakkan (amal shalih tersebut).


Ibnu Katsir rahimahullah berkata,  “Firman Allah,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

”Jika kalian menampakkan sedekah(kalian), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian” (Al-Baqarah : 271).


Di dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa menyembunyikan shadaqah lebih utama daripada menampakkannya, karena lebih jauh dari riya` kecuali jika ada maslahat yang kuat, yaitu orang-orang mengikutinya,maka menampakannya lebih utama jika ditinjau dari sudut pandang ini dan hukum asalnya adalah menyembunyikan lebih utama,berdasarkan Ayat ini (Tafsir Ibnu Katsir 1/701).



Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam kitab Al-Fath 11/337 :

Terkadang disunnahkan menampakkannya -yaitu amal shalih- bagi orang yang menjadi panutan. Jika tujuannya untuk ditiru dan hal itu diukur sesuai dengan kebutuhan. Ibnu ‘Abdis Salam berkata, ‘Dikecualikan dari hukum sunnahnya menyembunyikan amal adalah bagi orang yang menampakkannya dengan niat agar dicontoh atau agar bisa diambil manfaatnya, seperti penulisan masalah ilmiyyah. Ath-Thabari, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud dan sekelompok Salafush Shalih berkata, ‘shalat malam di masjid-masjid mereka dan menampakkan amal shalih mereka dengan niat agar dicontoh.’ Beliau berkata, ‘Barangsiapa menjadi imam (pemimpin) yang perbuatannya menjadi tauladan, iapun mengetahui hak Allah atas dirinya, dan mampu menaklukkan syetannya, maka bagi dia, sama kedudukannya antara amal yang ditampakkan dengan yang disembunyikan karena kebaikan niatnya. Adapun bagi orang yang bertipe kebalikannya, maka menyembunyikan amal lebih utama baginya. Atas prinsip inilah Salafush Shalih melakukan amal shalih”.

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah berkata, “Di dalam menyembunyikan amal shalih ada faidah keikhlasan dan selamat dari riya`, dan di dalam menampakkannya ada faidah menjadi suri tauladan dan penyemangat manusia untuk berbuat baik, akan tetapi terancam serangan riya`, dan Allah memuji kedua sikap ini, Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

”Jika kalian menampakkan sedekah (kalian), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian” (Al-Baqarah : 271).

Namun Dia memuji sikap menyembunyikan amal karena bisa selamat dari perusak amal yang besar tersebut, sedangkan sedikit orang yang bisa selamat darinya. Terkadang sikap menampakkan amal adalah sesuatu yang terpuji, ketika memang tidak bisa disembunyikan, seperti jihad, haji, shalat jum’at, dan shalat jama’ah. Maka bentuk menampakkan amal-amal tersebut adalah dengan bersegera melakukannya dan menampakkan keinginan melakukannya dengan tujuan menyemangati (orang lain) dengan syarat tidak terkotori kotoran riya`.

Kesimpulan, selama suatu amal shalih itu bersih dari kotoran-kotoran tersebut dan menampakkanya tidak sampai mengganggu orang lain, serta memang mendorong manusia untuk mencontoh dan mengikuti perbuatan yang baik tersebut hingga mereka pun bersegera melakukannya –dan hal ini disebabkan karena kedudukan pelakunya adalah sebagai ulama atau orang-orang yang shalih yang mampu menggerakkan mereka untuk mencontohnya-, maka sikap menampakkan amal ketika itu adalah sesuatu yang lebih utama karena hal itu merupakan kedudukan para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ulama pewaris mereka, sedangkan tidaklah mereka dikhususkan kecuali dengan sesuatu yang paling sempurna, dan karena juga manfaatnya meluas untuk orang lain, serta berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ يَعْمَلُ بِهَا إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memulai mengamalkan suatu amal shalih dan manusia mencontohnya,maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari Kiamat. Jika tidak terpenuhi syarat tersebut di atas,maka sikap menyembunyikan amal itu lebih utama” (Az-Zawajir : 1/118).


Berkata Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah,
“Termasuk kesempurnaan ikhlas adalah seseorang bersemangat agar tidak ada orang yang melihat ibadahnya dan agar ibadahnya kepada Rabbnya tidak diketahui manusia, kecuali jika
menampakkannya ada kemaslahatan bagi kaum muslimin atau bagi Islam, seperti jika seseorang itu statusnya sebagai pemimpin yang diikuti dan ia ingin menunjukkan ibadahnya kepada manusia agar mereka mengambilnya sebagai contoh bagaimana melakukan ibadah tersebut, atau ia menampakkan ibadah dengan tujuan ingin dicontoh oleh teman, pengiring, dan sahabat-sahabatnya, maka dalam hal ini ada kebaikan. Maslahat-maslahat yang memang layak untuk dipilih tersebut, terkadang lebih utama dan lebih tinggi dari maslahat menyembunyikan amal, oleh karena itulah Allah ‘Azza Wa Jalla memuji orang-orang yang berinfak dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan juga.

Jika memang sembunyi-sembunyi itu lebih maslahat, lebih bermanfaat bagi hati, dan lebih khusyu’ serta  lebih bisa kembali kepada Allah, maka mereka menyembunyikannya, sedangkan jika menampakkan amal ada maslahatnya bagi Islam dalam bentuk nampak semarak syariat-Nya (diterapkan) dan bagi kaum muslimin bisa mencontohnya, maka mereka akan menampakannya. Seorang mukmin hendaklah melihat apa yang paling bermanfaat (baginya), kapan saja sesuatu itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat pengaruhnya dalam peribadatan, maka hal itu lebih sempurna dan lebih utama” (Majmu’ Fatawa dan Risalah Ibnul ‘Utsaimin : 3/165).
Dan berdasarkan hal inilah ,maka tidak mengapa Anda memberitahu istri Anda tentang sebagian amal shalih Anda, hingga Anda bisa mendorongnya untuk mencontoh Anda dan bersungguh-sungguhlah dalam mengikhlaskan amal untuk Allah Ta’ala saja dan membersihkannya dari riya`Wallahu a’lam (Islamqa.info/ar/135634).

Jika memang sembunyi-sembunyi itu lebih maslahat, lebih bermanfaat bagi hati, dan lebih khusyu’ serta  lebih bisa kembali kepada Allah, maka mereka menyembunyikannya, sedangkan jika menampakkan amal ada maslahatnya bagi Islam dalam bentuk nampak semarak syariat-Nya (diterapkan) dan bagi kaum muslimin bisa mencontohnya, maka mereka akan menampakannya. Seorang mukmin hendaklah melihat apa yang paling bermanfaat (baginya), kapan saja sesuatu itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat pengaruhnya dalam peribadatan, maka hal itu lebih sempurna dan lebih utama” (Majmu’ Fatawa dan Risalah Ibnul ‘Utsaimin : 3/165).

Oke, Mari kita simak bagian yang di bold, yap Jadi kesimpulannya :
·         ketika hal tersebut lebih bermaslahat bagi kaum muslimin dan tujuannya agar bisa menjadi tauladan bagi yang lain kita menampakannya, termasuk mutabaah yaumiyah karena tujuannya disini ialah untuk menjadi pendorong ibadah.


  •            Riya itu dari dari hati atau bisa dilihat dibagian pengertian menurut istilah bahwa tergantung dari niat kita, “Mungkin ketika kita awal beramal 100 dolar, akan mucul Riya dihati, tapi ketika kita melakukannya berulang lama kelamaan hal tersebut akan berubah menjadi ikhlas karena pengulangan atau habits kebiasaan, Akan tetapi jika kita tidak memulai kapan kita akan berbuat?” – felix Siaw 


  •       Menolak untuk melakukan sesuatu yang baik karena takut dianggap sombong adalah kesombongan –Mario Teguh      

  • Yap musuh islam saat ini sudah  show off dengan kehebatan mereka dengan hal2 yang tentu kurang baik bagi Pemuda-pemudi islam yang merusak moral, pikiran, bahkan perilaku dan mindset. Jika kita hanya terdiam dan berdalih tidak mau sombong atau riya untuk memberi tauladan. Bagaimana pertanggung jawaban kita kelak ketika Allah menannyakan tentang Ilmu dan pengetahuan tentang Islam yang telah diberikan kepada kita?

·         Apalagi mutabaah yaumiyah adalah satu produk yang berada dalam sistem,bukan individu yang show off dimana terdapat seorang pemimpin yang disana harus ditaati

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4] : 59)

Sekian kalau ada yang mau nanya bisa comment atau WA ya ;)

Editor : Me



Share:

Review kisah Kaab bin malik, kejujuran dan kesuksesan

Hadits Bukhari 4066

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ وَكَانَ قَائِدَ كَعْبٍ مِنْ بَنِيهِ حِينَ عَمِيَ قَالَ سَمِعْتُ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ حِينَ تَخَلَّفَ عَنْ قِصَّةِ تَبُوكَ قَالَ كَعْبٌ لَمْ أَتَخَلَّفْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا إِلَّا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ تَخَلَّفْتُ فِي غَزْوَةِ بَدْرٍ وَلَمْ يُعَاتِبْ أَحَدًا تَخَلَّفَ عَنْهَا إِنَّمَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ عِيرَ قُرَيْشٍ حَتَّى جَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ عَدُوِّهِمْ عَلَى غَيْرِ مِيعَادٍ وَلَقَدْ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ حِينَ تَوَاثَقْنَا عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهَا مَشْهَدَ بَدْرٍ وَإِنْ كَانَتْ بَدْرٌ أَذْكَرَ فِي النَّاسِ مِنْهَا كَانَ مِنْ خَبَرِي أَنِّي لَمْ أَكُنْ قَطُّ أَقْوَى وَلَا أَيْسَرَ حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْهُ فِي تِلْكَ الْغَزَاةِ وَاللَّهِ مَا اجْتَمَعَتْ عِنْدِي قَبْلَهُ رَاحِلَتَانِ قَطُّ حَتَّى جَمَعْتُهُمَا فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ غَزْوَةً إِلَّا وَرَّى بِغَيْرِهَا حَتَّى كَانَتْ تِلْكَ الْغَزْوَةُ غَزَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ وَاسْتَقْبَلَ سَفَرًا بَعِيدًا وَمَفَازًا وَعَدُوًّا كَثِيرًا فَجَلَّى لِلْمُسْلِمِينَ أَمْرَهُمْ لِيَتَأَهَّبُوا أُهْبَةَ غَزْوِهِمْ فَأَخْبَرَهُمْ بِوَجْهِهِ الَّذِي يُرِيدُ وَالْمُسْلِمُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرٌ وَلَا يَجْمَعُهُمْ كِتَابٌ حَافِظٌ يُرِيدُ الدِّيوَانَ قَالَ كَعْبٌ فَمَا رَجُلٌ يُرِيدُ أَنْ يَتَغَيَّبَ إِلَّا ظَنَّ أَنْ سَيَخْفَى لَهُ مَا لَمْ يَنْزِلْ فِيهِ وَحْيُ اللَّهِ وَغَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْغَزْوَةَ حِينَ طَابَتْ الثِّمَارُ وَالظِّلَالُ وَتَجَهَّزَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُسْلِمُونَ مَعَهُ فَطَفِقْتُ أَغْدُو لِكَيْ أَتَجَهَّزَ مَعَهُمْ فَأَرْجِعُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا فَأَقُولُ فِي نَفْسِي أَنَا قَادِرٌ عَلَيْهِ فَلَمْ يَزَلْ يَتَمَادَى بِي حَتَّى اشْتَدَّ بِالنَّاسِ الْجِدُّ فَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْمُسْلِمُونَ مَعَهُ وَلَمْ أَقْضِ مِنْ جَهَازِي شَيْئًا فَقُلْتُ أَتَجَهَّزُ بَعْدَهُ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ ثُمَّ أَلْحَقُهُمْ فَغَدَوْتُ بَعْدَ أَنْ فَصَلُوا لِأَتَجَهَّزَ فَرَجَعْتُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا ثُمَّ غَدَوْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ وَلَمْ أَقْضِ شَيْئًا فَلَمْ يَزَلْ بِي حَتَّى أَسْرَعُوا وَتَفَارَطَ الْغَزْوُ وَهَمَمْتُ أَنْ أَرْتَحِلَ فَأُدْرِكَهُمْ وَلَيْتَنِي فَعَلْتُ فَلَمْ يُقَدَّرْ لِي ذَلِكَ فَكُنْتُ إِذَا خَرَجْتُ فِي النَّاسِ بَعْدَ خُرُوجِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَطُفْتُ فِيهِمْ أَحْزَنَنِي أَنِّي لَا أَرَى إِلَّا رَجُلًا مَغْمُوصًا عَلَيْهِ النِّفَاقُ أَوْ رَجُلًا مِمَّنْ عَذَرَ اللَّهُ مِنْ الضُّعَفَاءِ وَلَمْ يَذْكُرْنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَلَغَ تَبُوكَ فَقَالَ وَهُوَ جَالِسٌ فِي الْقَوْمِ بِتَبُوكَ مَا فَعَلَ كَعْبٌ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَبَسَهُ بُرْدَاهُ وَنَظَرُهُ فِي عِطْفِهِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ بِئْسَ مَا قُلْتَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلَّا خَيْرًا فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ فَلَمَّا بَلَغَنِي أَنَّهُ تَوَجَّهَ قَافِلًا حَضَرَنِي هَمِّي وَطَفِقْتُ أَتَذَكَّرُ الْكَذِبَ وَأَقُولُ بِمَاذَا أَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ غَدًا وَاسْتَعَنْتُ عَلَى ذَلِكَ بِكُلِّ ذِي رَأْيٍ مِنْ أَهْلِي فَلَمَّا قِيلَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَظَلَّ قَادِمًا زَاحَ عَنِّي الْبَاطِلُ وَعَرَفْتُ أَنِّي لَنْ أَخْرُجَ مِنْهُ أَبَدًا بِشَيْءٍ فِيهِ كَذِبٌ فَأَجْمَعْتُ صِدْقَهُ وَأَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَادِمًا وَكَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَيَرْكَعُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ لِلنَّاسِ فَلَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ جَاءَهُ الْمُخَلَّفُونَ فَطَفِقُوا يَعْتَذِرُونَ إِلَيْهِ وَيَحْلِفُونَ لَهُ وَكَانُوا بِضْعَةً وَثَمَانِينَ رَجُلًا فَقَبِلَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَانِيَتَهُمْ وَبَايَعَهُمْ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمْ وَوَكَلَ سَرَائِرَهُمْ إِلَى اللَّهِ فَجِئْتُهُ فَلَمَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ تَبَسَّمَ تَبَسُّمَ الْمُغْضَبِ ثُمَّ قَالَ تَعَالَ فَجِئْتُ أَمْشِي حَتَّى جَلَسْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ لِي مَا خَلَّفَكَ أَلَمْ تَكُنْ قَدْ ابْتَعْتَ ظَهْرَكَ فَقُلْتُ بَلَى إِنِّي وَاللَّهِ لَوْ جَلَسْتُ عِنْدَ غَيْرِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا لَرَأَيْتُ أَنْ سَأَخْرُجُ مِنْ سَخَطِهِ بِعُذْرٍ وَلَقَدْ أُعْطِيتُ جَدَلًا وَلَكِنِّي وَاللَّهِ لَقَدْ عَلِمْتُ لَئِنْ حَدَّثْتُكَ الْيَوْمَ حَدِيثَ كَذِبٍ تَرْضَى بِهِ عَنِّي لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يُسْخِطَكَ عَلَيَّ وَلَئِنْ حَدَّثْتُكَ حَدِيثَ صِدْقٍ تَجِدُ عَلَيَّ فِيهِ إِنِّي لَأَرْجُو فِيهِ عَفْوَ اللَّهِ لَا وَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ قَطُّ أَقْوَى وَلَا أَيْسَرَ مِنِّي حِينَ تَخَلَّفْتُ عَنْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ صَدَقَ فَقُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِيكَ فَقُمْتُ وَثَارَ رِجَالٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ فَاتَّبَعُونِي فَقَالُوا لِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْنَاكَ كُنْتَ أَذْنَبْتَ ذَنْبًا قَبْلَ هَذَا وَلَقَدْ عَجَزْتَ أَنْ لَا تَكُونَ اعْتَذَرْتَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا اعْتَذَرَ إِلَيْهِ الْمُتَخَلِّفُونَ قَدْ كَانَ كَافِيَكَ ذَنْبَكَ اسْتِغْفَارُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَ فَوَاللَّهِ مَا زَالُوا يُؤَنِّبُونِي حَتَّى أَرَدْتُ أَنْ أَرْجِعَ فَأُكَذِّبَ نَفْسِي ثُمَّ قُلْتُ لَهُمْ هَلْ لَقِيَ هَذَا مَعِي أَحَدٌ قَالُوا نَعَمْ رَجُلَانِ قَالَا مِثْلَ مَا قُلْتَ فَقِيلَ لَهُمَا مِثْلُ مَا قِيلَ لَكَ فَقُلْتُ مَنْ هُمَا قَالُوا مُرَارَةُ بْنُ الرَّبِيعِ الْعَمْرِيُّ وَهِلَالُ بْنُ أُمَيَّةَ الْوَاقِفِيُّ فَذَكَرُوا لِي رَجُلَيْنِ صَالِحَيْنِ قَدْ شَهِدَا بَدْرًا فِيهِمَا أُسْوَةٌ فَمَضَيْتُ حِينَ ذَكَرُوهُمَا لِي وَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمِينَ عَنْ كَلَامِنَا أَيُّهَا الثَّلَاثَةُ مِنْ بَيْنِ مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهُ فَاجْتَنَبَنَا النَّاسُ وَتَغَيَّرُوا لَنَا حَتَّى تَنَكَّرَتْ فِي نَفْسِي الْأَرْضُ فَمَا هِيَ الَّتِي أَعْرِفُ فَلَبِثْنَا عَلَى ذَلِكَ خَمْسِينَ لَيْلَةً فَأَمَّا صَاحِبَايَ فَاسْتَكَانَا وَقَعَدَا فِي بُيُوتِهِمَا يَبْكِيَانِ وَأَمَّا أَنَا فَكُنْتُ أَشَبَّ الْقَوْمِ وَأَجْلَدَهُمْ فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَشْهَدُ الصَّلَاةَ مَعَ الْمُسْلِمِينَ وَأَطُوفُ فِي الْأَسْوَاقِ وَلَا يُكَلِّمُنِي أَحَدٌ وَآتِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ وَهُوَ فِي مَجْلِسِهِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَأَقُولُ فِي نَفْسِي هَلْ حَرَّكَ شَفَتَيْهِ بِرَدِّ السَّلَامِ عَلَيَّ أَمْ لَا ثُمَّ أُصَلِّي قَرِيبًا مِنْهُ فَأُسَارِقُهُ النَّظَرَ فَإِذَا أَقْبَلْتُ عَلَى صَلَاتِي أَقْبَلَ إِلَيَّ وَإِذَا الْتَفَتُّ نَحْوَهُ أَعْرَضَ عَنِّي حَتَّى إِذَا طَالَ عَلَيَّ ذَلِكَ مِنْ جَفْوَةِ النَّاسِ مَشَيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ جِدَارَ حَائِطِ أَبِي قَتَادَةَ وَهُوَ ابْنُ عَمِّي وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَوَاللَّهِ مَا رَدَّ عَلَيَّ السَّلَامَ فَقُلْتُ يَا أَبَا قَتَادَةَ أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ هَلْ تَعْلَمُنِي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَسَكَتَ فَعُدْتُ لَهُ فَنَشَدْتُهُ فَسَكَتَ فَعُدْتُ لَهُ فَنَشَدْتُهُ فَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ فَفَاضَتْ عَيْنَايَ وَتَوَلَّيْتُ حَتَّى تَسَوَّرْتُ الْجِدَارَ قَالَ فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِي بِسُوقِ الْمَدِينَةِ إِذَا نَبَطِيٌّ مِنْ أَنْبَاطِ أَهْلِ الشَّأْمِ مِمَّنْ قَدِمَ بِالطَّعَامِ يَبِيعُهُ بِالْمَدِينَةِ يَقُولُ مَنْ يَدُلُّ عَلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ فَطَفِقَ النَّاسُ يُشِيرُونَ لَهُ حَتَّى إِذَا جَاءَنِي دَفَعَ إِلَيَّ كِتَابًا مِنْ مَلِكِ غَسَّانَ فَإِذَا فِيهِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي أَنَّ صَاحِبَكَ قَدْ جَفَاكَ وَلَمْ يَجْعَلْكَ اللَّهُ بِدَارِ هَوَانٍ وَلَا مَضْيَعَةٍ فَالْحَقْ بِنَا نُوَاسِكَ فَقُلْتُ لَمَّا قَرَأْتُهَا وَهَذَا أَيْضًا مِنْ الْبَلَاءِ فَتَيَمَّمْتُ بِهَا التَّنُّورَ فَسَجَرْتُهُ بِهَا حَتَّى إِذَا مَضَتْ أَرْبَعُونَ لَيْلَةً مِنْ الْخَمْسِينَ إِذَا رَسُولُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِينِي فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَعْتَزِلَ امْرَأَتَكَ فَقُلْتُ أُطَلِّقُهَا أَمْ مَاذَا أَفْعَلُ قَالَ لَا بَلْ اعْتَزِلْهَا وَلَا تَقْرَبْهَا وَأَرْسَلَ إِلَى صَاحِبَيَّ مِثْلَ ذَلِكَ فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي الْحَقِي بِأَهْلِكِ فَتَكُونِي عِنْدَهُمْ حَتَّى يَقْضِيَ اللَّهُ فِي هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَعْبٌ فَجَاءَتْ امْرَأَةُ هِلَالِ بْنِ أُمَيَّةَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هِلَالَ بْنَ أُمَيَّةَ شَيْخٌ ضَائِعٌ لَيْسَ لَهُ خَادِمٌ فَهَلْ تَكْرَهُ أَنْ أَخْدُمَهُ قَالَ لَا وَلَكِنْ لَا يَقْرَبْكِ قَالَتْ إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا بِهِ حَرَكَةٌ إِلَى شَ

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sahabat Rohis kali ini kita bakalan membahas atau bisa di bilang Cuma review  hadist kaab bin malik yg awesome banget, yang merupakan hadist terpanjang,

Jadi apa sih makna di balik hadist tersebut? Hadist tersebut menceritakan tentang kisah kaab bin malik yang tidak ikut berperang pada perang tabuk, dan tabuk adalah sebuah lokasi di Negara Saudi yang  kurang lebih jaraknya dari Madinah 1000 KM

    Hadist yang mulia ini adalah hadist yang sangat agung, Berbicara dalam bab taubat dan ulama hadist mengatakan tidak ada hadist yang seagung ini, karena hadist ini merupakan tentang pengakuan seorang sahabat yang mulia kaab bin malik, tentang bagaimana ia bertaubat dan bagaimana prosesnya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sini. Berikut sedikit terjemahannya : “kata kaab bin malik RA, Aku tidak pernah tertinggal dari Rasulullah SAW, dalam peperangan apapun  yang di pimpin oleh beliau kecuali dalam perang tabuk”
Suatu hari Nabi SAW mengajak seluruh sahabat laki-laki untuk ikut, dan semuanya keluar kecuali orang-orang munafik dan 3 orang beriman dan salah satunya yang beriman itu adalah kaab bin malik,
     Tabuk Pada saat mau terjadi peperangan itu lagi puncak puncaknya panas, kalo dimadinah kita tarik sekarang bisa mencapai 55 derajat, panas bener hhe. Disisi lain, Pekerjaan utama mereka adalah perkebunan kurma dimana perkebunan tersebut justru lagi puncak-puncaknya panen , Namun sahabat diperintahkan untuk perang dan selama ini peperangan yang paling jauh yang harus mereka jalani ya perang ini.. perang tabuk yang jaraknya mencapai 1000 KM dari kota Madinah. Hmm, bayangin bro panas jalan 1000 KM palingan juga ada kendaraan naik kuda atau onta wkkw 1 KM aja udh lemes lol, jadi bisa dibayangin gimana Usaha para sahabat pada saat itu digoda juga dengan urusan panen kurma hehe
   Lanjutan terjemahan hadistnya nih : “Memang aku juga tertinggal dalam perang badar, Namun tidak ada seorang pun yang tertinggal waktu itu yang di cela,Sebab Rasulullah SAW dan kaum muslimin keluar untuk menghadang kafilah dagang quraisy, Yang pulang dari syam hingga kemudian Allah mempertemukan mereka dengan musuh mereka tanpa rencana” Oke sampai disini dulu kita garis bawahi, Disini kaab bin malik menceritakan tentang perang yang lain yang beliau tidak ikut yaitu perang badar, perang badar terjadi pada tahun 2 Hijriah di bulan Ramadhan, Dan pada saat itu Nabi SAW. Tidak mengiklankan untuk perang, Beliau mengiklankan siapapun yang mau ikut boleh silakan ini bukan peperangan tapi menyerang kafilah dagang Quraisy, FYI kafilah diistilahkan apabila 3 unta keatas,
waktu sahabat diwajibkan hijrah oleh Nabi Saw, dan ini perintah oleh Allah tentunya maha tinggi dan maha perkasa maka banyak diantara sahabat nabi yang kaya raya seperti utsman bin affan, Abu bakar,Abdurrahman bin Auf banyak yang lainnya yang kaya raya, harta mereka semuanya dirampas oleh orang-orang Quraisy, Rumahnya, perdagangannya,Bahkan istri-istrinya anak-anaknya karena mereka dalam keadaan kafir, maka Nabi ketika tiba di Madinah membentuk sariah, sariah ini pasukan kecil dibawah 100 orang untuk menyerang kafilah-kafilah Quaraisy, Jadi untuk merebut kembali harta muslimin yang telah di rebut oleh mereka di Mekkah dan selama itu kurang lebih ada 7 atau 8 penyerangan tidak pernah berhasil sampai puncaknya ada satu kafilah Quraisy,

   Terdiri dari 2500 unta dan banyak sekali harta diatasnya, dan secara kebetulan dengan hikmah Allah didalam kafilah itu semuanya isinya adalah harta kaum muslimin yang dirampas oleh tokoh-tokoh Quraisy, Seperti Abu jahal, Abu lahab, Ummayah bin Khalaf, Utbah bin Rabi’ah.  Ini semua mereka yang mencuri mengambil harta-harta dan itu tidak dibagikan kemasyarakat umumnya tapi tokoh-tokoh masyarakatnya, Ringkas cerita kafilah ini 2500 unta biasanya didampingi dengan 500,300 prajurit perang untuk mempertahankan tapi kali ini hanya 24 orang yang menjaga dan juga dipimpin oleh abu sufyan, waktu itu salah satu kepala suku maka keluarlah Nabi Saw dari madinah, memimpin sendiri pada saat itu.
   Dan mengiklankan siapa diantara kaum muslimin yang mau ikut, Kami akan menyerang kafilahnya Quraisy, dan selama ini Nabi hanya membolehkan orang-orang muhajir saja orang dari Mekkah saja yang boleh ikut orang-orang asli madinah tidak usah ikut, karena mereka gak ada hubungannya dengan harta itu, Tapi khusus yang terakhir ini. Semua boleh ikut siapa saja, dari mekkah darimana juga boleh ikut, karena menyerang orang-orang Quraisy, Terkumpulah karena ini bukan peperangan dan pilihan maka Akhirnya terkumpulah 313 orang. Bersama Nabi Saw menjadi 314 orang, dan ini tidak di programkan sama sekali, Begitu Nabi Saw keluar tiba diwilayah badar ada satu gunung, gunung yang cukup besar, Arah yang lebih dekat dengan Madinah dari gunung tersebut disebut udwatin dunya, sisi yang disebrang gunung namanya udwatil kuswa, waktu nabi tiba di udwatin dunya kafilah Quraisy abu sufyan sudah lolos, Namun Abu sufyan tau Nabi Saw telah keluar dari Madinah, Supaya mereka bisa selamat Abu sufyan mengirim berita ke Mekkah, Pada saat berita dikirim ke Mekkah, Orang-orang mekkah termasuk Abu jahal mempersiapkan pasukan Ringkas cerita terkumpul 1000 orang prajurit perang terdiri dari 800 ekor kudan dan 200 ekor unta, pasukan Quraisy sampai dilokasi di udwatil kuswa sebelah gunung, pasukan muslimin di undwatin dunya disebelah gunung yang bagian yang sebelahnya lagi,Tapi keduanya tidak saling tau dengan hikmah Allah

      Maka yang terjadi kafilah Quraisy Abu sufyan berhasil menaikan kafilah digunung-gunung dan berhasil lolos Abu sufyan tidak tau kalau pasukan Quraisy sudah sampai dilokasi itu, Sampai kata para ulama perang Badar itu betul-betul perang “Rekayasa Allah” yang maha tinggi dan maha pemurah, Lalu Abu sufyan akhirnya nyurat kepasukan, Bahwa mereka telah aman kalian bisa pulang lagi, pulang aja pulang, terus akhirnya hampir semua pasukan mau pulang. Tapi dengan hikmah Allah rupanya Abu jahal yang dikenal  dengan firaun umat ini memotivasi pasukan, “jangan balik, Kita udah tiba” akhirnya mereka tinggal. Mereka gak jadi balik
     Terjadilah saat itu dengan hikmah Allah peperangan dan orang-orang yang hadir dibadar, dijamin bagi mereka surga, Sampai kata Nabi Saw pada saat pasukan akan bertemu. Kalau tidak ada seorang pun mati disini dibadar kecuali pasti masuk surga, Salah satu sahabat namanya Abdullah, Abdullah ini mengatakan bakhin bakhin ya Rasulullah coba ulangi. Nabi Saw mengatakan demi zat yang jiwa Muhammad dalam genggamannya, Tidak ada seorang pun diantara kalian yang hadir disini dibadar, Kemudian terbunuh kecuali pasti masuk surga, hm ada jaminan bro,

    Pada akhirnya berkecamuklah peperangan dan Abdullah ini lagi pegang 2 butir kurma kemudian dia makan dulu pasukan lagi nyerang dia makan dulu, lalu dia mengatakan “Sungguh, Kalau saya selesaikan makan kurma ini masih lama untuk masuk surga. Lalu kemudian dibuang sama kurmanya dia. lalu dia masuk… sampai terbunuh mati syahid. Wow ntah knp kalau ngebayanginnya pgn ketawa Astagfirullah wkwk
    Tapi yang jelas perang badar ini karena tadinya niatnya bukan untuk perang tapi untuk menyerang kafilah maka tidak di wajibkan orang untuk hadir. Ini makna kalimatnya Kaab bin malik tadi . saya tidak pernah kehilangan peperangan Nabi Saw, Semuanya saya ikutin Nabi suruh perang,kecuali di tabuk. nanti bakal disebutin kenapa dia gak ikut, dan badar yang memang tidak ada orang yang diwajibkan ikut siapa saja yang mau ikut, itu maknanya yap, kalau mau liat di Quran tentang kisah yang tadi udwatin dunya dan udwatil kuswa bisa diliat di surat An-Anfal , Mulai dari ayat 5,6,7,8,9,10
     Bahas sedikit di ayat ke 6, Jadi ceritanya di ayat ke 6 ini waktu pasukan sudah ketemu antara pasukan Nabi Saw disebelah gunung dan pasukan Quraisy disebelahnya lagi, Nabi Saw sampaikan, Ini disebelah gunung ini sekarang ada pasukan quraisy, Kita bukan lagi hadapin kafilah yang hanya dijaga 24 orang, Sekarang ini sebelah guung ada 1000 orang pasukan perang. Jumlah sahabat 313 orang jadi Cuma 30%, Dan keluar dari Madinah bukan niat perang. Maka mereka ada yang tidak pakai baju besi, Mereka ada yang Cuma jalan kaki. Tidak ada persiapan perang. Sementara pasukan Quraisy ini semuanya pasukan perang ,Maka Nabi Saw bilang. Apa pendapat kalian? Perang atau enggak? Abu bakar berdiri lalu mengatakan “Ya Rasulullah, Apapun yang Allah perintahkan kepada anda jalankan kami akan berada bersamamu.. perang perang kalau pulang pulang. Nabi Saw mengatakan “Terima kasih”. Duduk Abu bakar, Lalu Nabi bilang lagi “hai manusia berikan pendapat” Umar berdiri “Ya Rasulullah, Lakukan yang Allah perintahkan pada anda kami akan pasti patuh,Kalau Perang-perang pulang-pulang” Nabi bilang “Terima kasih”. Nabi mengatakan lagi “Hai manusia beritahukan pendapat kalian” Berdiri Miqdad, Miqdad ini terkenal 1 orang punya kekuatan 1000 orang di medan perang, Kuat sekali secara fisik. Sampai Umar bin Khattab selalu menempatkan miqdad di pasukannya. Di bagian depan, Maka Miqdad bilang “Ya, Rasulullah, Jangankan anda mengajak kami berperang melawan Quraisy yang seribu ini, Bila anda mengajak kami ke Birakal Jimat”. Birakal jimat adalah sebuah lokasi antara Madinah sama Yaman, disitu ada 14 suku semuanya benci Isla, Kata Al-Miqdad jangankan melawan yang 1000 ini kalau anda mengajak ke birakal jimat melewati 14 suku yang berarti 14 kali peperangan. Melawan suku2 tersebut kami tidak akan mundur, Karena beraninya Miqdad emang satu orang ini luar biasa. Lalu Nabi mengatakan “Baik,Terimakasih” Tapi Nabi masih bilang Berikan pendapat hai manusia, ternyata ada alasannya Masih nanya karena tiga2nya ini dari Mekkah. Wajar mereka mau lawan Quraisy karena hartanya di rampas, Tapi Nabi sedang menunggu penduduk asli Madinah, Orang-orang Anshor setuju gak perang? Maka berdirilah Saad bin Muadz sahabat Nabi yang mulia, dari Anshor pimpinan mereka dari suku Aus. Mengatakan “Ya, Rasulullah Sepertinya anda menginginkan kami, Kata Nabi Saw “Iya, Memang saya tunggu dari orang-orang Anshor”  Maka dia mengatakan ” Ya, Rasulullah, Jangankan anda menyuruh kami menghadapi musuh, kalau anda masuk kedalam lautan pun kami akan ikut bersama anda, Kami tidak akan pernah mengatakan seperti yang dikatakan kaum musa kepada musa, Waktu Nabi Musa AS selamat dari Firaun,”
    Allah suruh bawa bani israil menyerang masuk ke Palestine. Tapi mereka tidak mau mereka mengatakan “Pergilah hai musa, berdua dengan Tuhanmu perangin kalau menang sampaikan ke kami” luar biasa kurang ajarnya mereka pada Nabi Musa pada saat itu. Kata saad kami tidak akan ucapkan itu, Tapi kami akan katakan pergilah engkau dengan tuhanmu berdua maka kami akan bersama kalian berdua, Untuk memerangi musuh, Maka bawalah kami yaa Rasulullah dimana engkau inginkan, Lalu Nabi Saw gembira lalu mengatakan “Sesungguhnya peperangan, Allah telah menjanjikanmu sekarang jibril membawa berita gembira, kalau kita bisa mendapatkan salah satu dari 2 ini, Kalau bukan kita temukan kafilah dan kita akan dapat 2500 unta, itu semuanya atau kita akan melawan pasukan. Tapi pasukan ini juga akan kita menangkan walaupun jumlah kita lebih sedikit, Janji dari Allah.

     Lalu ditempat kaum muslimin pada saat itu turun hujan lembut sekali sehingga pada malam itu kaum muslimin tidur nyenyak, di bagian lain dari gunung turun hujan lebat sehingga membuat musyrikin tidak ada yang bisa tidur pada malam itu. Berat semua baju2 mereka, Lalu becek tanah2 mereka.Sehingga sulit untuk berjalan, ada di surat Al-Anfal ayat 11, Btw kita bukan bicara masalah badar tapi tabuk jadi singkat segitu aja ya, coba cari sendiri tentang malam Aqabah deh itu peristiwa penting ane nyaranin bgt, itu kesepakatan yang merubah sejarah dunia.
     Kaab disini menjelaskan dia tidak sempat ahdir di perang tabuk tapi dia bilang, Saya sempat hadir loh dia lagi cerita di malam Aqobah, Bersama Rasulullah Saw, Sewaktu kami bersumpah setia membela Islam, Aku tidak ingin kehadiranku di malam itu digantikan oleh perang badar artinya malam itu lebih aku cintai daripada hadir di perang Badar, Karena memang luar biasa Malam Aqobah itu, perang badar pun terjadinya setelah baiat itu. Artinya ini lebih mulia kata dia, Meskipun perang badar lebih dikenang ditengah orang-orang disbanding baiat Aqobah padahal sebenarnya, perang badar justru terjadi karena baiat itu. Dan diantara kisah hidupku adalah ketika aku tertinggal dari Rasulullah Saw di perang tabuk, artinya diantara kisah hidupku yang paling berpengaruh dalam hidupku ini dan berbekas adalah pada saat aku tertinggal tidak ikut perang tabuk, aku tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mampu dari pada keadaanku ketika aku tertinggal dari beliau dalam perang itu, Maksudnya pada saat itu aku tidak sedang sakit, Aku tidak sedang miskin, lagi sehat, lagi kuat, dan belum ada dia mengatakan aku tidak pernah merasakan lebih kuat, Dan lebih mampu sepanjang hidupku dibandingkan pada hari itu yang aku tidak sempat hadir perang, Artinya aku tidak punya udzur, Tapi aku tidak hadir di tabuk, Demi Allah aku sebelumnya tidak pernah memiliki 2 kendaraan. Namun diperang itu aku memilikinya sebelum ini aku Cuma punya satu kuda, pada saat itu ekonomiku lagi bagus, Fisik ku lagi sehat, dan aku punya 2 ekor kuda. Artinya mampu ikut perang,
   Kata dia Rasulullah Saw tidak pernah menginginkan peperangan melainkan beliau menyembunyikan daerah sasarannya dengan mengisyaratkan seolah-olah. Beliau menuju kelainnya, Hingga pada perang itu. Rasulullah berperang menuju tabuk dengan musim yang sangat panas dan menghadapi perjalanan yang sangat jauh menempuh padang pasir
    Makna dari “menyembunyikan daerah sasarannya” artinya adalah strategi perang Nabi ketika Nabi misalnya, Mau serang mekkah, Beliau jalan jauh… lawan arahnya,Jadi orang-orang tidak tau Nabi akan serang mekkah, musuh tidak sempat siap, Kalau ada orang yang memata-matai. Juga tidak tau,
    Nabi Cuma bilang kita akan jihad! Langsung Siap-siap semuanya. Keluar-keluar tunggu instruksi saja dan ini salah satu strategi. Dan disini dikatakan Nabi Saw selalu menyembunyikan, Daerah sasarannya, dengan mengisyaratkan seolah-olah beliau menuju ke yang lain. Hingga pada perang tabuk Rasulullah berperang menuju Tabuk dengan musim yang sangat panas. Yap..  Kecuali pada perang Tabuk Nabi Iklankan.. Kita akan ketabuk! Peperarangan yang lain semua Nabi sembunyikan, Kecuali perang itu, Dan FYI nih pada saat itu wilayah Tabuk dikuasai oleh Romawi. Kekuatan Bizantium Romawi, Kekuatan yang menguasai setengah dunia pada saat itu. Jadi Nabi dengan pasukan yang kecil sebenarnya, Tapi mau menyerang kesana menujukkan kekuatan kaum muslimin. Dan memang di perang Tabuk ini. Kaisar Romawi, Pendetanya bermusywarah.. jumlah Nabi gak banyak 1000 sekian orang saja,  Pada saat itu orang-orang Romawi tidak berani menghadapi Nabi, Karena setelah bermusyarah pendeta mengatakan kami tau ini zaman keluarnya Nabi, dan kalau betul itu Nabi maka kita tidak akan menang. Kata mereka, Lebih baik gak usah di hadapi, Maka Nabi menunggu di wilayah Tabuk sebulan, Menguasai wilayah itu sebulan, Menunjukkan kekuatan kaum muslimin lalu pulang ke Madinah, orang dahulu tau berjalan dipadang pasir banyak sekali resikonya lebih besar kemungkinan matinya, dipadang pasir bisa kehilangan arah, dimakan binatang buas, Kehabisan air bisa mati, kalau malam tidur tidak bisa terlindungi , Sementara antara Madinah dan Tabuk akan melalui Padang Pasir, Dan menghadapai jumlah pasukan yang sangat besar. Jumlah Romawi waktu itu di Tabuk, Kurang lebih jumlah pasukan perang 250.000 orang, Rasul Saw 1000 lebih saja, Beliau menjelaskan kepada kaum muslimin, Tentang urusan mereka yang sangat serius. Agar mereka bersiap-siap dengan segala perbekalan mereka untuk menghadapi perang, Beliau menjelaskan kepada mereka arah yang mereka tuju.
   Orang-orang Islam yang bersama Rasulullah Saw sangat banyak. Namun dengan keadaan yang  sulit, orang-orang munafik mengatakan, Hai muslimin, Kalian mau pergi perang? Iku ke Tabuk? Jaraknya jauh, lagi panas, Dan ini sebentar lagi panen, siapa yang mau panen nih di kebun kalian? Di goda seperti itu. Maka aku lebih cenderung kepadanya, Maksudnya kepada panen kurma. Daripada peperangan kata kaad bin malik, Rasulullah Saw dan kaum muslimin yang bersamanya, Berkemas2 dan aku pun segera pulang untuk bersiap2 bersama beliau. Akhirnya aku berpikir untuk ikut perang. Tapi setelah aku pulang aku tidak melakukan apa2. Aku berkata dalam hati. Aku bisa melakukannya kapan saja aku mau. Maksudnya tidak siapin kudanya,pedangnya, tombaknya, bajunya, tidak mempersiapkan apa2 kata dia. Dan aku berkata aku bisa melakukan kapan saja. Begitulah keenggangan terus menyergapku hingga orang2 terus berbenah dengan serius maka pagi harinya, kaum muslimin dan Rasul berangkat untuk perang, sementara aku belum mempersiapkan apa2 tanpa sebab begitu saja itu terjadi.
Aku beranjak lalu aku kembali lagi, Tanpa melakukan apa2 hal itu berlangsung terus saja padaku hingga mereka berangkat dengan segera, Dan aku tertinggal perang, Aku bertekad untuk menyusul mereka. Andai saja aku melakukan saat itu. Maksudnya dia gak jadi nyusul dia ceritain penyesalannya. Hal tersebut tidak ditakdirkan untukku maka ketika aku keluar ditengah manusia. Setelah keberangkatan Rasulullah Saw. Aku merasa bersedih karena aku tidak melihat seorang panutan untukku. Kecuali laki2 yang tercela karena kemunafiqannya, Atau orang yang diterima udzurnya oleh Allah. Dari kalangan orang2 yang lemah. Rasulullah Saw tidak menyebut2ku hingga beliau sampai ditabuk. Wahai Rasulullah Dia tertahan oleh pakaian dan kedua sisi tubuhnya. Berkata salah satu sahabat Namun yang lain menyangkalnya lalu mengatakan bahwa kaab bin malik adalah orang shaleh,

   Hingga Rasul Saw kembali dari perang Tabuk 80 orang munafik mengatakan bahwa mereka mempunyai udzur berdusta pada Nabi Saw dan Kaab bin malik sempat berpikir untuk berdusta karena ia memang di beri kemampuan untuk berdebat dan fasih bicaranya, ketika Rasul sampai hilanglah semua pikirannya tersebut.  Dan pada akhirnya mengatakan yang sejujurnya bahwa ia tidak ada udzur bahkan ia sangat sehat dan sedang kaya pada saat itu, Lalu Rasul bersabda “Adapun orang ini, Diedapan para sahabat bahwa ia telah berkata jujur, Mak berdirilah kemudian pulanglah kerumahmu  hingga Allah memberikan keputusan tentangmu” Nanti akan turun wahyu kau diterima taubatmu atau tidak. Kenapa gak ikut perang gaada alasan Rasululllah panggil, Beberapa orang dari Bani salamah berjalan mengikutiku mengatakan “Demi Allah kami tidak pernah melihatmu berbuat dosa sebelumnya,Ternyata engkau tidak mampu mengajukan udzur kepada Rasulullah Saw. Seperti  yang diajukan orang-orang lain yang absen, Padahal istighfar Rasulullah Saw untukmu sudah cukup untuk menghapus dosamu. Karena tadi bilang kepada orang2 munafik, Semoga Allah ampunkan, kata Bani salamah tadi jika saja kau mengaku saja atau berbohong, Maka Nabi akan istighfar untukmu Kaab berkata “Demi Allah, Mereka terus mencelaku hingga aku ingin kembali pada Rasulullah Saw untuk mendustakan diriku. Kemudian Aku katakan kepada mereka, Apakah ada seseorang yang mengalami hal yang sama denganku? Mereka menjawab “iya, Ada dua orang lagi yang mengalami hal seperti ini bersamamu. Mereka mengatakan sama dengan apa yang kamu katakan, Dan dijawab dengan jawaban yang sama dengan yang diberikan kepadamu” Kaab berkata “Aku bertanya siapa mereka? Ternyata mereka murarah bin rabi dan hilal bin ummayah, Ternyata mereka menyebutkan 2 nama orang sholeh, Dan yang lebih hebat lagi dua2nya telah ikut pada perang badar, Artinya mendapat jaminan surga. Rasulullah Saw melarang orang2 berbicara dengan kami bertiga,  Dari sekian banyak orang tidak ikut perang hanya mereka bertiga yang dihukum. Maka orang2 pun menjauhi kami mereka sikapnya berubah kepada kami, hingga menurutku bumi ini telah berubah, Gaada yang salam gaada yang jawab salam.Gaada yang  ngajakngomong, Bumi ini bukan bumi yang aku kenal, kami mengalami suasana seperti itu selama 50 malam, Adapun 2 orang sahabatku, Maksudnya murarah dan hilal. Maka mereka merasa minder dan berdiam diri dirumahnya sambil menangis, Adapun aku adalah yang termuda dan yang paling tegar, Aku keluar rumah menghadiri shalat jamaah, Bersama kaum muslimin, berkeliling dipasar.

   Namun tidak seorangpun yang sudi berbicara dengan ku , aku mendatangi Rasulullah Saw dan mengucapkan salam, Maka aku berkata dalam hati apakah beliau menggerakan bibirnya untuk menjawab salam atau tidak, Namun tidak ada jawaban dari Nabi, Kemudian aku shalat disamping beliau lalu mencuri pandang kepada beliau, Apabila aku sudah mulai shalat beliau memandangku. Apabila aku menoleh kepada beliau maka beliau memalingkan wajahnya dariku, ketika pemboykotan kaum muslimin kepadaku telah berlangsung lama aku berjalan hingga memanjat dinding kebun abu katadah, Dia adalah putra pamanku  saya masuk secara paksa , karena sepupunya sendiri, Dia adalah putra pamanku dan orang yang paling aku cintai, aku mengucapkan salam padanya tapi demi Allah dia tidak menjawab salamku. Wahai Abu katadah aku bertanya padamu dengan nama Allah apakah engkau mengetahui  bahwasanya aku mencintai Allah dan rasulnya? Maka dia diam tetap tidak menjawab kemudian kuulangi lagi aku bertanya padanya dengan bersumpah, Namun dia tetap diam kemudian aku ulangi lagi, Maka dia berkata Allah dan Rasulnya lebih tau. Maka kedua mataku pun berlinang air mata segera berbalik pergi hiingga aku memanjat tembok, tak kala aku berjalan dipasar madinah, tiba2 seorang petani penduduk syam yang datang, Untuk menjual makanan di Madinah berkata Siapa yang bisa menunjukkanku Kaab bin malik? Maka orang2 langsung menunjukkannya kepadaku lalu dia menemuiku dan menyodorka surat dari raja Ghassan, raja ghassan adalah raja arab yang kafir. Hm, rupanya sampai terdengar keluar madinah ada 3 orang, yang tidak ikut perang. Dan di boikot, Tapi karena diantara ke3 tadi kaab ini yang paling tegar, tetap interaksi sama orang dll, lain hal dengan mrarah dan hilal mereka sembunyi dirumah dan nangis saja terus setiap hari, solatnya pun mereka solat dirumah, Maka raja Ghassan dia tau kaab bin malik punya kedudukan, dia fasih dalam berbicara berani dalam berperang, orangnya juga suka berkorban dan suratnya tadi isinya adalah “Setelah  ini, Sesungguhnya telah sampai kepada kami sahabatmu. Maksudnya Rasul saw. Mencampakkanmu, Padahal Allah tidak menjadikanmu berada dinegeri hina dan sia2. Bergabunglah bersama kami. Kami akan menyantunimu” ketika aku membacanya aku berkata, “ini juga bagian dari cobaan, Maka aku menuju ke tungku api, untuk bakar roti pada saat itu, Dan membakar surat tadi. Ada masalah malah di tawarin lagi masalah

     Hm, emang sih biasanya orang gitu habis berzina dia ketakutan tuh. Ada lagi orang telpon ajak lagi zina lain, nambah masalah wkwk

   Kemudian hingga tatkala telah berlalu 40 hari. Dari 50 hari dan wahyu tidak kunjung turun juga. Utusan Rasululllah Saw, Mendatangimu dan dia berkata “Sesungguhnya Rasulullah Saw memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu. Aku berkata “Apa aku harus menceraikannya? Apa yang harus aku perbuat? Maka dia berkata “Tidak, tidak cerai tapi jauhi dia jangan mendekatinya (maksudnya menggauli)” dan beliau juga mengutus kepada sahabatku pesan yang sama. Maka aku katakana kepada istriku pulanglah kerumah keluargamu. Tinggalh bersama mereka hingga Allah memutuskan perkara ini, Maka istri Hilal datang kepada Rasul dan berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Sesungguhnya hilal bin Ummayah, Adalah orang tua yang tidak bisa melayani dirinya sendiri. Dan dia tidak memiliki pembantu. Apa anda keberatan bila aku melayaninya? Makannya, Minumnya, Cuci bajunya.. Boleh tidak? Beliau mengatakan “Tidak keberatan, Tapi jangan sampai ia mendekatimu, tidak boleh bersentuhan. Maka dia berkata “Demi Allah, Sesungguhnya tidak ada lagi padanya. Keinginan kepada apapun. Kata istrinya hilal. Dan demi Allah dia terus menerus menangis semenjak hari itu hingga hari ini. Maka sebagian keluargaku berkata kepadaku. Bagaimana jika engkau juga meminta izin? Kembali kepada Kaab bin malik. Maksudnya ketika nabi mengizinkan istrinya hilal untuk melayani hilal, kenapa kaab tidak meminta izin juga? Maka aku menjawab “ Aku tidak akan meminta izin pada Rasul Saw tentang istriku. Siapa yang tau yang akan dikatakan oleh Rasul Saw.

   Jika aku meminta izin kepada beliau tentang istriku. Karena aku adalah laki-laki yang masih muda, Maka aku tetap menjalani hidup seperti ini. Selama 10 malam. Hingga genaplah Bagi kami 50 malam. Semenjak diberlakukan larang berbicara kepada kami. Kemudian aku solat subuh pada pagi hari yang ke-50. Diatas atap salah satu rumah kami (maksudnya rumah penduduk madinah). Ketika aku sedang duduk dalam keadaan yang telah disebutkan oleh Allah Swt tentang kami, Aku duduk dengan keadaan jiwaku tertekan. 50 hari di boikot, Sementara jiwaku yang terasa sempit dan Bumipun telah menjadi sempit bagiku. Padahal bumi itu luas Tiba2 aku mendengar suara orang yang berlari berteriak dengan suara keras dan diatas gunung sala,Dan gunung sala ini adalah salah satu gunung di Madinah untuk menyampaikan iklan/informasi. Dia berteriak dengan suaranya yang paling keras, “Wahai kaab bin malik! Bergembiralah! Maka aku langsung menyungsur sujud dan aku tahu bahwa , Jalan keluar telah datang, Maka Rasul Saw. Mengumumkan bahwa Allah Yang maha tinggi, dan maha suci menerima taubat kami, Ketika beliau selesai solat subuh, Sehingga orang2 pun berhamburan, Memberikan kabar gembira kepada kami. Kepada kedua sahabtku pun telah ada yang memberikan kabar gembira, Ada seseorang yang menunggangi kuda dengan kencang menujuku, Dan ada lagi dari Bani Aslam yang lari Menujuku. Dia naik keatas gunung, Dan suara itu lebih cepat daripada kuda, Tatkala orang yang aku dengar suaranya datang kepadaku memberikan kabar gembira, Aku langsung Melepas dua pakaianku untuknya dan itu termasuk sunnah Rasul untuk memberikan hadiah kepada orang yang memberikan kabar gembira, Lalu aku pakai kan keduanya, karena saking gembirannya. Lalu aku meminjam pakaian dan memakainya, Dan aku berangkat menuju Rasul Saw, Maka orang2 secara berbondong2 menemuiku mengucapkan selamat atas diterimanya taubatmu oleh Allah. Mereka mengucapkan kepadaku. “Semoga penerimaan Allah atas taubat mu.Membuatmu bahagia, Hingga aku masuk masjid. Rasul Saw sedang duduk dikerumuni oleh orang2, Maka Toha bin ubaidillah Ra, salah satu sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Dari 10 orang sahabat. Berjalan dengan cepat. Setengah berlari, Hingga menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah tidak ada seorang pun. Dari kaum muhajirin yang berdiri selain beliau. Dan kaab tidak pernah melupakan perbuatan toha itu.
Kaab berkata “ketika aku mengucapkan salam kepada Rasul Saw beliau bersabda dengan wajah yang berseri-seri,             Karena gembira “Bergembiralah!” kata Nabi, “hari terbaik yang pernah melewati hidupmu. Semenjak kau dilahirkan oleh ibumu. Aku bertanya, Apakah dari anda, Berita ini wahai Rasulullah, Atau dari Allah. Maka beliau menjawab “Tidak, akan tetapi dari Allah, yang maha tinggi dan maha suci” Apabila Rasulullah Saw bergembira kata kaab, Wajahnya bersinar, Seolah2 wajah beliau adalah sepotong rembulan, Dan kami mengetahui hal itu dari beliau maka, Tatkala aku duduk dihadapan beliau aku berkata “Wahai Rasulullah sesungguhnya diantara taubatku adalah aku akan mengeluarkan harta aku,  sebagai shadaqoh kepada Allah dan kepada Rasulnya. Maka Rasul Saw berkata, “Tahanlah sebagian hartamu jangan semua kau Shadaqohkan, Tahan untuk keperluanmu, Karena itu lebih baik untukmu, Maka aku berkata sesungguhnya aku menahan bagianku, Yang ada di Khaibar, yaitu hasil pada perang khaibar selain itu aku shadaqohkan semua, Dan aku berkata “wahai Rasulullah, Sesunggunhya Allah yang maha tinggi, Menyelamatkanku karena kejujuran, Dan sebagai bukti kebenaran taubatku, Aku tidak akan berbicara melainkan dengan jujur, Selama aku masih hidup. Maka demi Allah aku tidak mengetahui seorangpun dari kaum  muslimin yang diberi nikmat oleh Allah dalam kejujuran ucapan semenjak Aku katakan hal itu kepada Rasulullah Saw, yang lebih baik daripada yang Allah anugrahkan kepadaku,Artinya aku tidak melihat lagi semenjak saat itu, kebahagiaan dan kesempurnaan iman, Yang dimiliki oleh orang selain kejujuran yang telah aku lakukan sehingga aku selamat, “demi Allah, Aku tidak pernah, sengaja untuk sesekalipun untuk berdusta, Semenjak hal tersebut aku katakan kepada Rasul Saw, Sampai hari ini, Aku benar2 berharap kepada Allah yang maha tinggi agar menjagaku dalam sisa hidupku. Kaab berkata ”Maka Allah menurunkan firmannya, Surat At-Taubah, 117-119 yang bunyinya, “Sesungguhnya Allah, Telah menerima taubat Nabi, Orang2 Muhajirin dan orang2 Anshor, Yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan. Semua Allah maafkan kesalahannya, Sesungguhnya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang kepada mereka, Dan terhadap 3 orang, Termasuk kaab bin malik, Yang ditangguhkan, Penerimaan taubat mereka, Hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu luas. Sampai pada ayat “bertaqwalah kepada Allah dan bersamalah kalian dengan orang2 yang jujur ”Kaab berkata “Demi Allah, Allah tidak memberi nikmat kepadaku yang lebih agung dari jiwaku, Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepadaku, Daripada sikap jujurku kepada Rasul Saw itu, Aku tidak berdusta kepada beliau, Sehingga aku bisa binasa jika aku dusta, sebagaimana orang2 yang telah berdusta. Allah turunkan firmannya. Membongkar mereka,

 “Sesungguhnya Allah yang maha tinggi. Berfirman kepada orang2 yang bedusta pada waktu Allah, ketika Allah menurunkan wahyu dengan seburuk2 ucapan, yang dikatakan kepada seseorang. Dimana Allah berfirman,Dalam surat At-Taubah. 95-96. Kelak mereka akan bersumpah kepada kalian dengan nama Allah. Apabila kalian kembali kepada mereka pulang dari perang Tabuk, Mereka berdusta para munafik, Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis, (maksudnya kotor, Karena buruknya hati mereka).  Dan tempat mereka adalah jahannam, Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. Mereka bersumpah kepada kalian agar, Kalian ridho kepada mereka. Tapi sekiranya kalian ridho kepada mereka, Maka sesungguhnya Allah tidak Ridho kepada orang2 yang fasik. Kaab berkata, urusan kami bertiga ditangguhkan diantara urusan orang2 yang alasan mereka telah diterima oleh Rasul Saw, Ketika mereka bersumpah kepada beliau, Dan beliaupun membaiat mereka dan memhonkan ampun mereka, Sementara. Rasul Saw menunda urusan kami bertiga, Hingga Allah memutuskan perkara kami dengan putusan diatas, Allah berfirman, dan diantara 3 orang yang ditangguhkan permintaan taubatnya (maksudnya, 80 orang itu berdusta dihadapan Nabi Saw, Akhirnya nabi terima saja, Ternyata Ayat Al-Quran datang menghardik mereka 80 orang itu) dan Kami ditangguhkan karena kami mengaku jujur. Tidak ada udzur, Tapi Allah memuji dengan firmannya, surat At-taubah 117, Yang dimaksudkan dengan kami ditangguhkan adalah bukan. Ketidakikut sertaan kami dalam peperangan, Tapi penundaan Nabi Saw terhadap urusan kami, Dari orang2 yang telah bersumpah dan mengajukan udzurnya kepada Rasul Saw. Dan beliau pun menerimanya.

Hmm panjang juga yaa, haha selamat! Yang udah baca sampai sini ;)
Rangkuman pelajaran yang bisa di ambil


  1. Ada peperangan semasa hidup Nabi Saw, Dan kaum muslimin tidak boleh lalai dari itu, Bahwasanya memang diperlukan, Peperangan, Pada saat dibutuhkan untuk membela kaum muslimin. Kebanyakan sekarang kaum muslimin karena lalai, Jadi walalupun Saudaranya dibantai, Kayak di Myanmar, Di palestine, Mereka banyak tidak bergerak. Karena mereka lupa, Kalau ada peperangan dalam islam dan bagian dari syariat. Itu di contohkan oleh Nabi Saw
  2. Bagaimana seorang Kaab bin Malik Ra. Mendahulukan kejujuran dalam menyampaikan alasan, Tidak ikut perang, atau kejujuran dalam menyampaikan alasan kenapa  tidak menyampaikan suatu perbuatan, Panjang lebar hadist ini menceritakan tentang kejujurannya kaab, sempat terlintas oleh kaab untuk berdusta tapi ia yakin pasti akan dibongkar oleh Allah Swt
  3. Pentingnya kejujuran dalam diri seorang muslim, Dalam kehidupan seorang muslim. Dan banyak sekali hadist yang berbicara masalah kejujuran. Lakukanlah kejujuran walau didepan kalian kehancuran, Dan jauhilah Dusta walau didepan kalian keberhasilan
  4. Fadhilah Berjuhad dijalan Allah dan mendahulukan jihad disamping daripada urusan dunia. Ini kita ambil dari kasus dimadinah waktu itu lagi panas2nya. Sebentar lagi panen kurma dan itu adalah pekerjaan utama penduduk Madinah, Mereka tinggalkan dan mereka pergi berjihad dijalan Allah Swt
  5. Allah Swt, Akan memberikan dukungannya kepada, Orang2 mukmin.
  6. Setiap masalah pasti aka ada akhirnya, Disini kita lihat 50 hari mereka diboikot tapi karena mereka bersabar tibalah Allah Swt. Jadi masalah itu pasti akan selesai oleh Allah Swt dengan carannya
  7.  Sunnah memberikan hadiah kepada orang yang memberikan berita gembira kepada kita.
  8. Sunnah saffar di hari kamis.
  9. Sunnah bila datang dari safar di siang hari.
  10.  Sunnah solat 2 rakaat apabila datang dari safar.



Untuk lebih detail antum bisa liat di youtube nih videonya :)


Atau bisa download disini






Share:

Dunia adalah penjara benarkah?


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ »
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2392)


Assalamualaikum Sahabat Rohis, banyak dari kita mengejar berbagai macam kehidupan di dunia, mulai dari ngerjain tugas, ngurus proker, dan lain-lain. tidak ada salahnya, tapi apakah itu semua adalah akhir dari tujuan seorang mukmin? Bagaimana kita seharusnya menjadi seorang muslim kaffah(keseluruhan)? Mengapa negara mayoritas muslim tetapi penduduknya banyak yang miskin,Tingkat pendidikan rendah? Mengapa doa saya belum terkabul? mengapa tuhan menciptakan manusia?

Jawaban dari semua hal diatas sudah ada,Tentu dengan sumber yang reliabel tinggal bagaimana kita mencarinya. 

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ، قَالَ لَهُ:”كَيْفَ تَقْضِي إِنْ عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ؟”، قَالَ: أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ، قَالَ:”فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ؟”قَالَ: فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:”فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟”قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلا آلُو، قَالَ: فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدْرَهُ، وَقَالَ:”الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”
“Dari Muadz ibn Jabal ra bahwa Nabi Saw ketika mengutusnya ke Yaman, Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw”.

Namun kali ini kita akan membahas tentang hadist Rasulullah, dan cerita tentang kisah Imam ibnu hajar Al-Atsqalani

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”

      Menarik ketika para ahli tarikh menceritakan kisah Imam Ibnu haja Al-Atsqalani, Seorang ulama besar dan ahli hadist yang mu'tabar dengan seorang yahudi tukang minyak.

      Dahulu, Imam ibnu hajar adalah seorang hakim besar pada masanya. Apabila pergi ke tempat kerjanya, dia berangkat dengan naik kereta yang di tarik oleh kuda atau keledai dalam sebuah arak-arakan. Pada suatu hari, Dia melewati seorang Yahudi mesir dengan keretanya. Yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, Yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, Yahudi menghadang dan menghentikannya. Kemudian, dia berkata kepada imam ibnu hajar :

"Sesungguhnya Nabi kalian berkata: "Kehidupan dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir'. Namun, Kenapa engkau sebagai orang beriman menjadi hakim besar di mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. sedangkan aku -yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaraan seperti ini?!"

Maka Imam Ibnu hajar menjawab:

"Aku dengan keadaanku yang penuh kemewahan dan kenikmatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedangkan penderitaan yang engkau alami di dunia ini dibandingkan dengan azab neraka itu seperti sebuah surga. "


      Mendegar kalimat dari imam ibnu hajar tadi, Yahudi ini pun segera mengucapkan dua kalimah syahadat dan menyatakan keislamannya.
      Subhanallah. Inilah figur seorang mukmin yang sadar betul bahwa hidupnya di dunia hanyalah sementara bahwa surga dan segala kenikmatan yang menantinya menjadikan dunia ini tidak lebih dari sekedar penjara.


     Bagi setiap muslim, kehidupan dunia dengan segala kegemerlapannya adalah ujian dan cobaan. Apakah kita terpedaya di dalamnya, ataukah kita mampu mensiasatinya secara bijaksana? Kehidupan dunia yang sementara ini adalah peta jalan menuju tempat kembali yang hakiki. Artinya, apa yang kita upayakan di dunia ini menentukan tempat apa dan seperti apa yang nanti akan kita tempati
    Namun, tidak berarti kita mengabaikan kehidupan dunia yang fana ini. Kita tetap dituntut untuk mengaktualisasikan diri kita sebagaimana amanah Allah Swt kepada manusia untuk mengelola bumi ini sebagai khalifah fil ardh. Hanya, kita harus benar-benar berhati-hati agar tidak terikat dengan dunia yang sementara ini . tidaklah salah, khalifah Abu bakar Ash-Shiddiq ra pernah mengingatkan kaum muslim tentang kehidupan dunia ini dengan doanya,

"Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami"

Pernyataan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra ini sejalan dengan hadist riwayat muslim yang mengetengahkan tentang harga dunia. Rasullulah saw bersabda

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِوَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِفِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allâh, tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kamu yang mencelupkan jari tangannya ini –perawi bernama Yahya menunjuk jari telunjuk- ke lautan, lalu hendaklah dia perhatikan apa yang didapat pada jari tangannya”. [HR Muslim, no. 2858].

Subhanallah! Begitu sempurnanya Rasulullah saw memberikan gambaran kepada kita tentang harga dunia. Ketika seseorang memasukan salah satu jarinya kedalam lautan yang begitu luas dan mengangkatnya, tentu saja hanya satu atau dua tetes yang mampu diangkatnya, sedangkan yang dia tinggalkan di lautan tersebut adalah kenikmatan yang Allah tahan di surga untuk mereka yang mukmin.

Semoga tulisan kali ini bisa menambah wawasan kita tentang islam dan bisa menjalankan islam sepenuhnya, semoga bermanfaat Good luck! J

Source : felix siaw




Share:

About

About Admin

Alif

Alif Ardiansyah Rusmana

Kelas 11 IPA 6 - +15189456056 (wa only)

Rohis 1 Depok

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Yakin lagi pesimis?

Definisi Pesimis Assalamualaikum Sahabat Rohis, Apakah lagi pesimis? PARAS sudah mendekat? Banyak ...